Kamis, 18 Oktober 2012

Laporan Keuangan Sesuai Dengan PSAK Revisi 2009 (Penyesuaian Dengan IFRS)



A.      Pendahuluan
Akuntansi adalah suatu ilmu pengetahuan yang sangat regulatif karena akuntansi memiliki konsekuensi ekonomi, efisiensi alokasi modal, dan mobilitas modal internasional (Soderstrom dan Sun, 2007). Setiap negara umumnya memiliki dewan standar untuk mengatur standar akuntansi yang berlaku secara domestik. Standar Akuntansi adalah pedoman umum penyusunan laporan keuangan yang merupakan pernyataan resmi tentang masalah akuntansi tertentu, yang dikeluarkan oleh badan yang berwenang dan berlaku dalam lingkungan tertentu (Chariri dan Ghozali, 2003).
Indonesia mengenal Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuagan Indonesia (DSAK) dibawah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai landasan untuk penyusunan laporan keuangan. PSAK semula menggunakan US GAAP (United States Generally Accepted Accounting Principles) sebagai Acuan. US GAAP diterbitkan oleh FASB (Financial Accounting Standards Board) yaitu otoritas penyusun standar domestik di Amerika Serikat (Kieso, Weygandt, dan Warfield; 2011). US GAAP semula memang dimaksudkan sebagai produk standar domestik yang berlaku hanya bagi perusahaan Amerika Serikat atau perusahaan non Amerika Serikat yang terdaftar di dalam Bursa Efek di Amerika Serikat yang berada dalam pengawasan SEC (Securities Exchange Commission) atau pengawas pasar modal Pemerintah Amerika Serikat. US GAAP ini semula menjadi standar utama yang menjadi acuan bagi pengembangan standar akuntansi banyak negara, termasuk PSAK Indonesia. Namun demikian, karena US GAAP semula dimaksudkan domestik, maka banyak elemen standar yang tidak dapat diadopsi penuh oleh negara-negara non Amerika Serikat.
Adanya kesenjangan dalam adopsi dan penggunaan US GAAP dan globalisasi menjadikan banyak pihak yang merasa perlu ada Standar Akuntansi Internasional yang dapat mengakomodasi prinsip dapat dibandingkan (comparability) dalam akuntansi serta mengakomodasi kepentingan negara-negara non Amerika Serikat. Berdasarkan hal tersebut maka berdirilah IASB (International Accounting Standard Boards) di London. Produk dari IASB adalah IFRS (International Financial Reporting Standards).
IFRS diharuskan diterapkan di negara-negara Uni Eropa sejak tahun fiscal Januari 2005 (Soderstrom dan Sun, 2007). Penerapannya menunjukkan bahwa adopsi IFRS berdampak positif pada kinerja keuangan perusahaan (Soderstrom dan Sun, 2007; serta Schleicher, Tahoun, dan Walker, 2010). Berdasarkan hasil positif penerapan IFRS di negara lain, Dewan Standar Akuntansi merevisi PSAK pada tahun 2009 untuk menyesuaiakan dengan IFRS.

B.       IFRS dan US GAAP
IFRS dan US GAAP memiliki beberapa perbedaan dan juga persamaan (Kieso, Weygandt, Warfield; 2011). Laporan keuangan semula berdasarkan US GAAP terdiri atas:
1.      Neraca (Balance Sheets)
2.      Laporan Laba Rugi (Income Statements)
3.      Laporan Perubahan Ekuitas (Retained Earnings Statements)
4.      Laporan Arus Kas (Statements of Cash Flows).
5.      Catatan Atas Laporan Keuangan (Notes to Financial Statements)
Berdasarkan IFRS ada beberapa istilah yang berbeda, yaitu:
1.      Laporan Posisi Keuangan (Statements of Financial Positions)
2.      Laporan Laba Rugi Komprehensif (Comprehenship Income Statements)
3.      Laporan Perubahan Ekuitas (Retained Earnings Statements)
4.      Laporan Arus Kas (Statements of Cash Flows).
5.      Catatan Atas Laporan Keuangan (Notes to Financial Statements).
Ada empat perbedaan utama antara US GAAP dengan IFRS. Pertama, penyebutan neraca (balance sheets) dalam US GAAP diganti menjadi laporan posisi keuangan (statements of financial positions). Kedua, perubahan juga tampak pada penyusunannya. Apabila US GAAP menyarankan sebaiknya mengurutkan akun berdasarkan kelancarannya (yang paling lancar paling atas) maka IFRS menyarankan penyusunan yang paling tidak lancar diletakkan pada posisi paling atas. Sebagai contoh akun Kas dan Gedung. US GAAP akan mencatat akun Kas lebih atas dibandingkan Gedung, sedangkan IFRS akan mencatat Akun Gedung lebih dulu dibandingkan Kas. Ketiga, US GAAP lebih konservatif dengan menekankan pada nilai historis dalam mencatat suatu transaksi sedangkan IFRS lebih menekankan pada nilai sekarang (current value) atau nilai pengganti (replacement cost). Keempat pada laporan laba rugi. Apabila US GAAP mendahulukan seluruh akun pendapatan baru kemudian seluruh beban, maka IFRS mengurutkan pendapatan operasi, beban operasi, kemudian baru menggabungkan pendapatan dan beban lain non operasi.

C.      Adopsi IFRS ke dalam PSAK Revisi 2009
PSAK tidak sepenuhnya meninggalkan US GAAP dan mengadopsi IFRS. Ada dua hal utama yang diadopsi dari IFRS. Pertama, PSAK 1 revisi 2009 mengadopsi IFRS dalam hal penamaan komponen laporan keuangan menjadi:
1.      Laporan Posisi Keuangan (Statements of Financial Positions)
2.      Laporan Laba Rugi Komprehensif (Comprehenship Income Statements)
3.      Laporan Perubahan Ekuitas (Retained Earnings Statements)
4.      Laporan Arus Kas (Statements of Cash Flows).
5.      Catatan Atas Laporan Keuangan (Notes to Financial Statements) (IAI, 2009).
Kedua, dalam hal laporan laba rugi mengurutkan pendapatan operasi, beban operasi, kemudian baru menggabungkan pendapatan dan beban lain non operasi.
Selain mengumumkan adopsi IFRS, PSAK 1 revisi 2009 juga merevisi beberapa hal. PSAK 1 revisi 2009  juga menyesuaikan penamaan kelompok akun. Penyesuaian utama adalah:
1.      Assets yang semula diartikan menjadi Aktiva diubah menjadi Aset.
2.      Liability yang semula diartikan Kewajiban diubah menjadi Liabilitas (IAI, 2009).
Selain perubahan sesuai IFRS ada beberapa hal yang tetap sulit ditinggalkan penuh dari US GAAP karena tidak memungkinkan diterapkan di Indonesia. Dua hal penting dipertahankan oleh PSAK revisi 2009. Pertama, urutan pelaporan dalam laporan posisi keuangan, tetap melaporkan dari yang paling lancar ke yang paling tidak lancar, bukan sebaliknya. Kedua, masih menekankan pada nilai historis dalam mencatat suatu transaksi dan bukan menggunakan nilai sekarang. Hal ini karena UU PerpajakAn Indonesia hanya mendukung penilaian kembali khususnya aktiva tetap satu kali tiap sepuluh tahun dan bukan setiap tahun.


D.      Kesimpulan
PSAK 1 Revisi 2009 diterbitkan dengan maksud mengumumkan adanya adopsi IFRS dalam penyusunan laporan keuangan. Namun demikian tidak seluruhnya PSAK mengikuti IFRS. Komponen utama yang berubah adalah penamaan neraca, penamaan akun, dan penyusunan laporan laba rugi komprehensif. Komponen yang tetap adalah urutan pelaporan keuangan dalam laporan posisi keuangan (neraca) dari yang paling lancar ke tidak lancar serta masih menggunakan beberapa prinsip akuntansi biaya historis.

 
DAFTAR PUSTAKA

Chariri, A., dan Ghozali, I. 2003. Teori Akuntansi. Edisi Revisi. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2009. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1 Revisi 2009, Penyajian Laporan Keuangan.

Kieso, D.E., J.J. Weygandt, and T.D. Warfield. 2011. Intermediate Accounting IFRS Edition, Vol. 1. John Wiley & Sons, Inc.

Schleicher, T., Tahoun, A., Walker, M. 2010. IFRS adoption in Europe and investment-cash flow sensitivity: Outsider versus insider economies. The International Journal of Accounting, 45: 143–168.

Soderstrom, N.S. dan K.J., Sun. 2007.  IFRS Adoption and Accounting Quality: A Review. Working Paper. University of Colorado.

1 komentar:

  1. makasih info nya,,, BTW jadi di indonesia sendiri memang gak merubah susunan dari laporan posisi keuangan ya?

    BalasHapus